Tampilkan postingan dengan label Bayi umur 42 hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bayi umur 42 hari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 17 November 2015

Tips Atasi Bayi menangis di tengah malam

Tips Atasi Bayi menangis di tengah malam

bagi pasangan yang baru memiliki balita, terutama usia rentan bagi orang bali (0-3 bulan), masalah klasik yang sering dihadapi oleh para orang tua yang selalu bikin kelimpungan, galau dan resah adalah tangisan bayinya yang tiada hendi di jam/waktu tertentu, misalnya menangis pada saat sandikala (antara jam 5 - 7 pagi, jam 12 siang, serta jam 6 - 7 malam), bayi menangis saat tengah malam serta bayi yang sering menangis di waktu rahinan/piodalan jagat seperti kajeng klion dll.

banyaknya kejadian bayi menangis di waktu-waktu tertentu tersebut mungkin saja dikarenakan oleh sebab MEDIS, karena itu sebelum lebih jauh bertindak, ada baiknya bayi anda diperiksakan dulu ke para medis baik dokter, perawat maupun bidan. nah.. apabila secara medis ternyata tidak ada masalah, barulah pendekatan non-medis dijalankan.

berikut ini beberapa pendekatan non-medis untuk mengatasi Bayi menangis di tengah malam maupun diwaktu-waktu tertentu.
  1. Kelengkapan upakara/uparengga dan ritual di lokasi menamam ari-arinya serta ritual hariannya
  2. uparengga di depan pintu kamar tidurnya
berikut ini penjelasannya:

Kelengkapan Upakara, Uparengga dan Ritual harian

untuk kelengkapan uperengga di lokasi menanam ari-ari yang mesti diperhatikan:
  1. lampu sentir/ganjreng/sambe layar. merupakan lampu (dipa) dengan pangkal sumbu dimasukan kedalam rumah keong sawah. gunakan minyak kelapa (lengis tanusan) sebagai bahan bakarnya. upayakan menggunakan "catu" lengis nyuh surya dan lengis dalang wayang. dipa ini merupakan wakil dari hyang agni.
  2. Beruk bulu (batok kelapa) yang diisi air kembang, isi dengan penuh, isi kembang di air tersebut. ini merupakan simbol dewa wisnu
  3. lokasi menanam ari-ari diisi batu kali (batu bulitan).
  4. guwungan (sangkar ayam jago) sebagai penutup 3 poin diatas.
  5. Sanggah tutuan/cucuk, yang berisikan kayu bakar (saang alutan), beratapkan klopek bambu. sanggah ini disebut dengan sanggah satoyoni, yang merupakan linggih hyang siwa.
lakukan ritual masegeh di tempat ari-ari tersebut setiap hari hingga dilaksanakannya upcara 3 bulanan. berikut ini upakaranya:
  1. Segehan kepelan sebanyak 4, yang masing-masing beralaskan daun kayu dapdap, diisikan bawang jahe, uyah areng (garam yang dimohonkan kepada dewa brahma, garam tersebut disentuhkan di "atas [gidat] cangkem paon [dapur]" sebanyak 9x, sehingga ada arang yang mewarnai garam tersebut). letakkan segehan tersebut di atas batu sungainya, letakkan juga dipa dan beruk airnya disana. dupa 3 batang. haturkan segehan ini pada sang catur sanak.
  2. taruh bawang nunggal di batu bulitan tersebut, yang mana saat bayi menangis, tekankan bawang tersebut ke batu sebanyak 3x hingga mengeluarkan airnya. kemudian mohonkan agar sang catur sanak menjaga sang bayi. gunakan bawang ini setiap hari hingga tidak layak/layu/kering. dan apabila sudah tidak bisa digunakan akibat layu, taruh kembali bawang nunggal di batu tempat menanam ari-ari disaat menghaturkan segehan.
  3. haturkan canang sari dan geti-geti di pelinggih sato yoni.
  4. haturkan canang sari dan geti-geti di sanggah kumara. ini dihaturkan pada hyang kumara, sebagai dewanya penjaga bayi. taruh juga bawang nunggal yang ditusukkan dengan pisau (tiyuk puntul).
  5. hatur segehan kepelan seperti point 1, hanya 1 kepel saja di sebelah ranjang tempat tidur bayi. haturkan segehan ini pada nyama bajang colong pangempu rare. 

Uparengga di depan Pintu Kamar

  1. membuat kelabang mantri yang berisikan; duri canging, pandan duri, duri tumbuhan "kem", sejengkal kayu dapdap yang bercabang tiga yang pangkalnya dirajah dengan "pamor/kapur" bentuk tapak dara (+), porosan, ikat dengan benang tridatu dan sebuah uang kepeng.
  2. letakkan uparenga kelabang tersebut ditas pintu kamar tidur sang bayi. fungsinya untuk nyengker dan menghalangi energi negatif yang mendekati kamar tersebut.
DAN...
tips tambahan yang mesti dilakukan untuk menenangkan bayi anda adalah dengan memutarkan "Kidung Pangerakseng Jagat" berikut ini, silahkan Download DISINI.
tidak sampai habis kidung tersebut, suasana kamar tempat tidur bayi anda akan terasa lebih sejuk dan tenang, selamat mencoba...

demikian sekilas Tips Atasi Bayi menangis di tengah malam, menjelang kajeng klion atau rahinan jagat dan waktu-waktu tertentu, semoga bermanfaat.

Minggu, 30 Agustus 2015

Upacara Ngelepas Aon dan Namakarma (bayi umur 42 hari)

Upacara Ngelepas Aon dan Namakarma (bayi umur 42 hari)

dalam tradisi keluarga kebayan guwang, Upacara Manusa Yadnya ngelepas aon (awon) serta manakarma (pemberian nama bayi) dilaksanakan pada saat bayi berumur 42 hari atau istilah balinya saat bayi berumur "a bulan pitung dina" (bulan = 35 hari, pitung dina = 7 hari, sehingga total 42 hari)

Upacara ngerorasin atau "ngelepas hawon", biasanya dipimpin oleh anggota keluarga yang dituakan atau bisa juga oleh seorang Pemangku. Upacara ini dilakukan di pekarangan rumah yaitu di dapur (Brahma) dan sanggah kemulan. 

Selain itu upacara ini juga disebut “nama karma”, Karena pada saat ini si bayi dianggap sudah melewati masa-masa kritis. Berarti jivatman sudah teguh menyatu dengan badan, maka si bayi lalu di beri nama. Dan pada saat seperti ini, biasanya keluarga si bayi akan mencari balian, nunas baos, bertanya tentang hal-hal yang berkaitan dengan si bayi. Siapa, apa dan bagaimana si bayi itu. Biasanya ditanyakan;
  • siapakah sang numadi yang bereinkarnasi itu. Pekak, kumpi, dadong dan sebagainya. 
  • Apakah masih punya tunggakan utang pada kehidupan sebelumnya? 
  • Atau apakah permintaannya? 
  • Dan pada kelahirannya yang sekarang ini, apakah sudah membawa nama? 
sesuai sastra bali, berikut ini banten upakara untuk upacara manusa yadnya Ngerorasin:
------maaf tulisan balinya masih diketikkan-----
berikut ini maksud dari tulisan diatas:
upakarania; pateh ring rikala kepus pungsed, rarene malukat raris kebaktiang nunas waranugraha.banten nglepas awon ring paon; don tlujungan medaging nasi muncuk kuskusan, wohwohan, ulam, laukpauk, mesampiyan naga sari, canang burat wangi, pasucian, pabersihan, lis. nasi ring don tlujungan tancebin linting tetiga (3), ring katiknyane gantungin pilpil masurat wastan sang rare. kalaning upakara, linting punikanyitan sami, abu pupuk sane mati paling duri, genahang ring gidat rarene (basmin).

pada saat Nama karma ini, bayi pertamakali diberikan nama. Memberi nama seorang anak tidak boleh sembarangan. Nama adalah doa keselamatan bagi sang anak, memanggil anak berarti mendoakan keselamatannya. Maka dari itu, nama selain indah juga harus bermakna.
tatacara pemberian nama bayi, sesuai kupasan sastra diatas:
  1. siapkan 3 calon nama, untuk bayi anda.
  2. buatkan 3 linting kapas, yang digantungkan gulungan nama bayi yang sudah dibuat tadi.
  3. celupkan minyak kelapa (usahakan tanusan nyuh surya) lintingan kapas tersebut
  4. tancapkan lintingan kapas tersebut di banten nasi yang sudah disediakan.
  5. nyalakan (bakar) linting tersebut, api yang terakhir padam, itulah nama bayi yang dipakai secara sah secara niskala.
demikian sekilas ritual Nama Karma, semoga bermanfaat.